Tarbiyyah bukan untuk orang yang malas.
Dakwah bukan untuk orang yang takut nak bergerak dan mencabar diri.
Tarbiyyah bukan untuk orang yang cepat bosan, lari, lompat-lompat, sekejap down-sekejap up, cepat terasa.
Tarbiyyah bukan bagi orang yang memilih program untuk dia ikuti yang senang dan mudah join, yang penat, bersusah payah elak. Bukan untuk orang yang mencari tarbiyyah hanya bila terasa diuji oleh tuhan. Kalau tak, batang hidung pun tak nampak.
Bukan bagi yang meletakkan dakwah hanya untuk mencari calon akhawat atau ikhwah sebagai sang isteri dan suami,
-yang join hanya untuk meminta tolong teman-teman pencerahan bila dia dalam kesusahan. Tapi kesenangan dan kelebihan yang dia dapat, tak share pun dengan orang lain.
-yang cepat mengalah,
-yang meletakkan mabit, qiamullail, daurah, dan tathqif dalam diari hanya selepas ditolak dengan semua agenda dan upacara-upacara penting’ yang lain.
-yang hanya pandai cakap (dan menulis), tapi amal kosong
-yang hanya tahu compare jamaah itu dengan jamaah ini, yang boleh mengkritik dan menilai harakah ini dan itu.
Dakwah bukan untuk orang yang ikut liqa’ hanya kerana nak disebut sebagai ahli dalam harakah ini dan itu, jamaah ini dan itu.
Dakwah bukan untuk orang yang tak boleh diberi tugasan last minute. Dakwah bukanlah untuk orang yang tak nak keluarkan duit, infaq di jalan Allah.
Dakwah bukan untuk orang yang tak boleh sesekali tidur lewat, terpaksa berjalan jauh.
Dakwah bukan bagi orang yang kalau ada program untuk ikut terlibat, mesti naik motokar besar dan mewah, yang air-cond, dan laju. Yang tak
nak naik bas, public transport, dan yang kena berpeluh-peluh.
Tarbiyah bukan untuk orang yang kena contact dan info dia setiap masa tentang perkembangan terkini sedangkan dia kena macam boss, hanya tunggu information.
Pencerahan bukan bagi mereka yang hanya nak berkawan dengan orang berduit dan berharta, yang hidup mewah, dan mengelak berkawan dengan orang susah, miskin, dan pakai comot.
Dakwah bukanlah untuk orang yang setiap masa dan ketika, kerja nak beri alasan ini dan itu. Penat, mengantuk, susah, banyak kerja, keluarga tak bagi keluar.
Tarbiyyah bukanlah segala-galanya. Tapi segala-galanya bermula dengan tarbiyyah.
Tanpa anda, orang yang sering beralasan ini, dakwah akan terus berjalan. Islam akan tetap berjaya. Ummah akan tetap terpelihara.
Cuma tanpa pencerahan, Tanpa tarbiyyah, Tanpa dakwah Belum tentu kita akan berjaya di mahsyar nanti.
Tak mengapa. Teruskan hidup anda seperti biasa. Dakwah tak memerlukan anda. Tiada siapa pun yang rugi tanpa kehadiran anda.
Berbahagialah seadanya.
Saya menghitung diri. Terlalu kerap menuturkan. “saya busy..saya sibuk..saya penat..saya letih..”
Adakah ini petandanya saya terlalu manja?
Ya Allah, tabahkan hamba-Mu. “amanah ini bukan hak milik, tp anugerah dr Nya”
copy from http://muntalaq.wordpress.com/
Thursday, April 15, 2010
Friday, April 9, 2010
Jaulah @ UK 2010
Enjoy it!!!
Ingat kenangan ukhuwwah kita di bumi org...BESTnye!!!
Sunday, March 28, 2010
Saturday, March 20, 2010
SUDAHKAH KITA?
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Demi Allah, sesungguhnya saya itu niscayalah memohonkan pengampunan kepada
Allah serta bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (Riwayat Bukhari)
Dari Aghar bin Yasar al-Muzani r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah pengampunan
daripadaNya, kerana sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali."
(Riwayat Muslim)
Rasulullah saw junjungan besar kita yang maksum dan telah confirm tempatnya disyurga pun 70/100 memohon ampun kpd Allat swt.
Bagaimana pula kita yang tidak pernah terlepas dari melakukan dosa? Sentiasakah kita atau hanya di saat dirundung hiba, menadah tangan memohon ampun?
Begitu banyak silap dan salah semasa hidup ini, adakah masih ada keampunan buat diri ini?
Dari Abu Said, yaitu Sa'ad bin Sinan al-Khudri r.a. bahwasanya Nabiullah s.a.w.
bersabda:
"Ada seorang lelaki dari golongan ummat yang sebelummu telah membunuh
sembilan puluh sembilan manusia, kemudian ia menanyakan tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, ialu ia ditunjukkan pada seorang pendeta.
lapun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh sembilanpuluh sembilan manusia, apakah masih diterima untuk bertaubat. Pendeta itu menjawab: "Tidak dapat." Kemudian pendeta itu dibunuhnya sekali dan dengan demikian ia telah menyempurnakan jumlah seratus dengan ditambah seorang lagi itu.
Lalu ia bertanya lagi tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, kemudian ditunjukkan pada seorang yang alim, selanjutnya ia mengatakan bahwa sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masi'h diterima taubatnya. Orang alim itu menjawab: "Ya, masih dapat. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dirinya dengan taubat itu. Pergilah engkau ke tanah begini-begini, sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang sama menyembah Allah Ta'ala, maka menyembahlah engkau kepada Allah itu bersama-sama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu sendiri, sebab tanahmu adalah negeri yang buruk."
Orang itu terus pergi sehingga di waktu ia telah sampai separuh perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian. Kemudian bertengkarlah untuk mempersoalkan diri orang tadi malaikat kerahmatan dan malaikat siksaan - yakni yang bertugas memberikan kerahmatan dan bertugas memberikan siksa, malaikat kerahmatan berkata: "Orang ini telah datang untuk bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah Ta'ala." Malaikat siksaan berkata: "Bahwasanya orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan sedikitpun."
Selanjutnya ada seorang malaikat yang mendatangi mereka dalam bentuk seorang manusia, lalu ia dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi, yakni dijadikan hakim pemutusnya - untuk menetapkan mana yang benar. Ia berkata: "Ukurlah olehmu semua antara dua tempat di bumi itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka orang ini adalah untuknya - maksudnya jikalau lebih dekat ke arah bumi yang dituju untuk melaksanakan taubatnya, maka ia adalah milik malaikat kerahmatan dan jikalau lebih dekat dengan bumi asalnya maka ia adalah milik malaikat siksaan."
Malaikat-malaikat itu mengukur, kemudian didapatinya bahwa orang tersebut adalah lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki -yakni yang dituju untuk melaksanakanbtaubatnya. Oleh sebab itu maka ia dijemputlah oleh malaikat kerahmatan." (Muttafaq 'alaih)
Lihat bagaimana sifat Allah Al-Ghafir, Maha pengampun, sehingga begitu sekali terhadap hambanya. Bagaimana Allah mencintai dan sentiasa memberi peluang kepada hambanya untuk memohon taubat. i/Allah sama-sama kita rebut nikmat dan peluang yang dikurniakan kepada kita. Semoga kita tergolong dalam orang-orang yang berfikir dan bersyukur.
Subscribe to:
Posts (Atom)